CILEGON – Sebuah mushaf Al-Qur’an berukuran raksasa tersimpan di Pondok Pesantren Al Hikmah, Lingkungan Cigading, Kelurahan Tegal Ratu, Kecamatan Ciwandan, Kota Cilegon. Mushaf setinggi 1,8 meter dan lebar 1,2 meter itu menjadi jejak dedikasi almarhum Yayi Haji Basarudin Ali terhadap kitab suci Al-Qur’an.
Mushaf tersebut ditulis langsung oleh almarhum sekitar tahun 1990 hingga 1991. Proses penulisannya berlangsung hampir satu tahun secara bertahap.
Pengurus Pondok Pesantren Al Hikmah, Mukaromi, menuturkan bahwa karya tersebut lahir dari ketekunan dan kedisiplinan sang kiyai dalam menjaga rutinitas ibadahnya.
“Alhamdulillah, mushaf Al-Qur’an ini langsung ditulis oleh almarhum kiyai. Penulisannya dilakukan secara bertahap selama satu tahun,” kata Mukaromi, Jumat (20/2/2026).
Ia menjelaskan, setiap malam selepas salat tahajud, almarhum mulai menulis sejak pukul tiga dini hari hingga menjelang subuh. Para santri turut mendampingi dan menyaksikan proses penulisan yang berlangsung dengan penuh kekhusyukan.
Kertas yang digunakan dipilih secara khusus agar kualitas tulisan tetap terjaga. Meski telah berusia lebih dari tiga dekade, kondisi mushaf masih relatif baik, hanya terdapat sedikit bekas rayap.
Menurut Mukaromi, gagasan membuat mushaf berukuran besar tidak terlepas dari kemampuan kaligrafi yang dimiliki almarhum serta kecintaannya yang mendalam terhadap Al-Qur’an.
“Harapannya, mushaf raksasa ini bisa menanamkan nilai-nilai Qurani dan menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya di Cilegon, untuk lebih mencintai Al-Qur’an,” ujarnya.
Saat ini tercatat empat mushaf berukuran besar telah diselesaikan. Sebagian tersimpan di lingkungan pesantren, sementara lainnya ditempatkan di sejumlah instansi pemerintahan.
Keberadaan mushaf raksasa tersebut tidak hanya menjadi simbol kecintaan terhadap Al-Qur’an, tetapi juga warisan spiritual yang terus menginspirasi generasi penerus di Kota Cilegon. (MJ/red)